Thursday, October 2, 2008

Doa Berenang

KUALITAS-KUALITAS DOA

DOA, dalam banyak seginya, mirip dengan berenang.
Berdoa bukan soal manusia saja tetapi juga soal Rahmat.
Seperti orang berenang bukan soal kemauan saja,
tetapi...juga tersedianya air.

Maka selanjutnya bisa dikatakan :
kehadiran dan mainnya rahmat adalah seumpama kuantitas air
dalam keadaannya yang baik dan segar.
Daya rangsangnya menggoda,
banyak orang terjun ke dalamnya.

Dalam aktivitas itu ada terdapat banyak variasi pengalaman :

Ada gerak yang lancar, tenang;
kepuasan terpancar pada wajah orang.
Pendoa adalah perenang yang telah terlatih;
begitu nampak nyaman di dalamnya.

Ada gerak yang cukup lambat, kaku,
akan tetapi ... mencoba maju.
Pendoa seumpama perenang yang belum terlatih
tetapi ... berkemauan keras.

Ada gerak yang berganti-ganti gaya,
dengan keluwesan yang luar biasa.
Pendoa adalah ibarat perenang kelas satu,
yang mahir dalam segala segi renang ;
kadang-kadang meluncur cepat, lalu ganti gaya seperti menari halus,
lalu berubah menjadi gairah tempur;
kemudian bahkan dengan muka ke atas, punggung ke bawah,
ia bergerak santai ...
kemana saja ia kehendaki.

Ada gerak yang seperti mati.
Pendoa masuk dalam keheningan yang nikmat.
Seperti perenang yang bisa ambil sikap pasif ;
hanya terapung tenang tanpa gerak dari pihaknya,
gerak lembut yang nampak adalah dari daya sentuh air saja.

Daya tarik Rahmat ada,
akan tetapi ... orang agak enggan mengikutinya,
maka ia hanya berdoa dengan perasaan enggan.
Ibarat orang yang malas atau takut kedinginan,
ia hanya berenang di tepian dan di bagian dangkal saja.

Ada daya tarik Rahmat,
tetapi ... orang tidak berminat.
Namun dari pihak lain ...
ia juga tidak mau melalaikan kewajiban berdoa.
Kata-kata sakral mulai bermunculan dari bibir,
sementara hatinya tetap beku.
Orang ini ada seperti orang yang tidak suka berenang,
akan tetapi...
ingin juga sedikit menikmati kesegaran air.
Ia cuci muka, mencelupkan kedua ujung kaki,
dan mengoyang-goyangkannya untuk beberapa menit dalam air.

Orang tersebut,
dalam mencicipi kesegaran doa,
yang tadi dilakukannya dengan suatu kemalasan,
mulai berdoa dengan lebih rela dan minat sedikit.
Orang yang hanya cuci muka tadi lalu terjun,
belum berenang ..., hanya untuk merendam diri dalam air.

Kualitas doa sama dengan kualitas Cinta;
perlu lahir lagi dan lagi...
pada setiap hari dan dalam tiap hati.
Seperti cinta ...,
doa perlu membaharu, meremaja..
Doa bukan saja mengungkapkan kekinian manusia,
bukan juga ingatan silamnya,
ia juga menunjuk kepada masa depan.
Doa kristiani adalah realitas dan janji.

Siapa berdoa selamat, yang tidak berdoa tewas ( St. Alfonsus Liquori ),
secara singkat dan padat menunjukkan unsur realitas dan unsur janji DOA.
Dari dirinya DOA merupakan keselamatan eskatologis,
yang telah mulai dalam masa dan saat ini.
DOA sebagai keterbukaan hati terhadap kelahiran Allah,
merupakan pararel kebenaran Iman akan kemampuan manusia
mencapai "sesuatu" yang melampaui manusia dan keterbatasannya.
Manusia menjangkau Allah,
dan ini bukan hanya secara rasional,
tetapi juga secara emosional-spiritual.

DOA adalah pengangkatan jiwa kepada Allah ( St. Agustinus ).
Dalam arti aktif,
orang dalam tenaga kemanusiaannya menjalankan doa-doanya.
Dalam arti pasif,
orang dibawa oleh gerak Rahmat kepada perhubungan adikodrati dengan Allah.
Manusia dengan kemauan dan kesadarannya ' berdoa '.
Pada kesempatan lain,
mendahulukan kesadaran dan kemauannya sendiri,
ia mengalami doa, ia ter-doa.

Pikirkan apa saja kesimpulan yang dapat kita tarik
dari uraian-uraian tersebut ?
Adakah suatu hiburan di dalamnya ?
Suatu rangsangan untuk mencintai DOA ?
Suatu ajakan untuk meninjau kembali
konsep-konsep orang pada umumnya tentang DOA,
ataukah pengukuhan akan konsep umum tentangnya ?

Prinsip Dasar :
Siapa mencinta ( ALLAH ),
bisa berdoa,
suka berdoa,
rindu akan kesempatan berdoa.

( Rm. Pius Budiwijaya, OCSO - Samadi 03/VII/2002 )


No comments: