Friday, April 3, 2009

Biasakanlah Selalu Berpikir Positif

Kegagalan dalam kehidupan, entah dalam pekerjaan ataupun percintaan, pasti pernah kita rasakan. Sering kali kegagalan tersebut membuat kita putus asa, tidak percaya diri dan selalu berpikir negatif. Padahal kegagalan seharusnya menjadi "cambuk" bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah dengan berpikir positif. Untuk membantu kita belajar berpikir positif, simaklah hal-hal berikut ini :

Pertama, cobalah mengabaikan segala macam pikiran negatif. Gantilah pikiran negatif kita dengan pikiran-pikiran yang positif dan bersifat membangun. Contohnya, ubahlah pikiran seperti, "saya tidak bisa melakukan ini", dengan pikiran positif, "saya pasti dapat melakukan hal ini dengan baik".

Kedua, sebelum melakukan sesuatu, jangan bayangkan sebuah kegagalan, tetapi bayangkan sebuah keberhasilan yang akan kita dapat setelah melakukan hal tersebut. Ingat biasanya apa yang kita bayangkan akan menjadi sugesti tersendiri yang menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan kita.

Ketiga, bergabunglah dengan orang-orang yang sering berpikir positif. Pikiran manusia itu ibarat penyakit menular. Jika kita berada di dekat orang-orang yang pikirannya dipenuhi kebahagian dan keoptimisan, secara otomatis kita akan terpengaruh cara berpikir mereka yang positif juga.

Keempat, sering-seringlah membaca buku yang dapat meningkatkan motivasi kita. Bacalah buku tersebut di waktu senggang kita. Lalu resapilah kalimat per kalimat secara perlahan-lahan. Buku-buku inspiratif tersebut akan membantu kita berpikir positif.

Kelima, perbaikilah cara duduk dan berjalan kita. Sikap dan tingkat rasa percaya diri seseorang dapat dinilai dari kedua hal tersebut. Biasakan untuk selalu duduk dan berjalan dengan punggung yang tegak. Kebiasaan seperti itu akan membantu meningkatkan rasa percaya diri dan aura positif dalam diri kita.

Keenam, cobalah untuk tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan. Seringkali kita terjebak karena terlalu banyak berpikir dan menghabiskan banyak waktu untuk menimbang-nimbang apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Padahal belum tentu hal itu benar adanya. Hal ini akan membuat kita tidak dapat mengeluarkan kemampuan terbaik kita.

Ketujuh, pilihlah satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai "hari berpikir positif". Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan kita temui bernilai istimewa. Kemudian perlakukanlah mereka secara positif. Kita akan merasakan bahwa kehidupan ini lebih indah dengan berpikir positif.

Read more...

INSPIRASI

Semua yang ada di sekeliling kita selalu dapat memberikan inspirasi

Arthur sering kali melewati jalanan ini, hari itu di pinggir jalan duduklah seorang pengemis buta, dia membungkukkan punggungunya, tangannya sedang memainkan biola.

Hari pertama ada dua orang pembeli sayur melewatinya, mereka memandang sejenak kepada penggesek biola itu dan secara bersamaan meraba ke dalam saku.
Salah satu ibu lebih cepat, dia melemparkan satu uang koin ke dalam mangkok. Ibu yang satunya ketika akan membuka dompet, dicegah oleh temannya dan berkata " Sedekah ini punya kita berdua, kamu tidak perlu kasih lagi ".
Ibu yang satunya berkata , " Saya saja yang beri, saya saja yang beri ".
Namun sampai akhirnya tidak mengeluarkan uang satu sen pun.
Melihat hal ini Arthur sangat geli, ibu yang pertama menggunakan uang 5 sen sebagai pemberian, sedangkan ibu yang kedua juga agak pelit, jika dia memberi lagi satu dollar bagi orang miskin, dia juga tidak akan merasa kelebihan.

Hari kedua berikutnya, di depan si pengemis itu lewat seorang wanita yang berdandan sangat modis. Setelah beberapa langkah melewati penggesek biola itu, dia kembali lagi dan mengeluarkan satu bungkus roti dari dalam kantong plastik, kemudian dia letakkan di dada si pengemis. Setelah itu...tok...tok....tok di pergi menjauh.
Arthur bergumam, "Wanita modis ini ternyata memiliki hati yang belas kasih, akan tetapi apakah bukan karena dia merasa roti itu tidak enak, sehingga merasa sayang kalau dibuang ? "

Hari ketiga, ada seorang pria yang berperut buncit dan berkepala botak melewati si pengemis. Dengan penuh rasa ingin tahu dia berdiri sejenak lalu mengeluarkan dompet yang dia ikat di pinggangnya. Dia memberikan selembar uang 10 dollar dan dimasukkannya ke dalam mangkuk.
Arthur menganalisa, pria itu sepertinya orang kaya, semua orang berkata bahwa, orang kaya yang jalannya serong, kebanyakan tidak berhati baik. Orang ini sepertinya dapat dikecualikan, akan tetapi uang 10 dollar bagi orang kaya itu sungguh tidak ada artinya. Mungkin saja dia ingin memamerkan keunggulan dirinya di depan orang lain.

Hari keempat, sepasang ibu dan anak lewat di situ. Si anak melihat banyak orang sedang melemparkan koin kepada si pengemis, dia pun juga merengek meminta uang kepada ibunya. Ibunya berkata sambil berjalan, " Setelah ini kamu harus belajar dengan baik, jika tidak nanti akan seperti pengemis itu."
Begitu mendengar ucapan si ibu itu, Arthur kembali mengeluh.

Malam harinya, berdasarkan pengamatan Arthur selama beberapa hari terhadap orang-orang berbeda dalam menghadapi si pengemis, dia menuliskan penemuan dan analisanya ke dalam sebuah artikel dan dikirimkannya ke sebuah tabloid.

Ketika artikelnya dimuat dalam tabloid, dia menunjukkan karya besarnya pada anaknya yang sedang berpikir keras membuat sebuah karangan.
Arthur membimbing dan berkata pada anaknya, "Apa yang disebut inspirasi ? Inspirasi adalah hasil dari rajin mengamati ditambah denga rajin berpikir panjang".
Dia menarik kesimpulan mengenai hal-hal lain berdasarkan satu hal, kemudian anaknya berangsur-angsur mengerti.

Satu jam kemudian anak itu memperlihatkan karangan yang telah selesai dikerjakan kepada ayahnya.
Judulnya adalah "Penemuan dan Pemikiran Panjang Dalam Kehidupan". Di dalamnya terdapat tulisan yang berbunyi demikian :
"Dalam kehidupan ada sebagian orang senang mengambil posisi dari atas melihat ke bawah dan memberikan komentar-komentar terhadap hal-hal di sekelilingnya. Namun dia justru terkadang lupa untuk membuat pertimbangan atas dirinya sendiri. Misalnya ada seorang penulis yang saya kenal baik, ketika dia di jalanan melihat seorang pengemis buta yang menggesek biola sebagai mata pencahariannya, penulis itu mengeluhkan berbagai macam sikap orang terhadap si pengemis dan telah memberikan komentarnya yang sangat mendalam. Akan tetapi dia sendiri sejak awal hingga akhir tidak pernah menyedekahkan uangnya satu sen pun kepada si pengemis itu. "

Setelah Arthur membaca karangan anaknya tersebut, dia terdiam dan termenung lama sekali.

Read more...